kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes) Minggu Kliwon, 27 Juni 2004 tarukan valas
redaksi
edisi sebelumnya
surat kepada redaksi
BERITA HARI INI
BERITA
OPINI
KARTUN
POTRET
TREND
CERMIN
KELUARGA
GEBYAR
APRESIASI
OLAHRAGA
Surat Pembaca
Iptek
GEBYAR
Kemesraan Gamelan Bambu dan ''Tiying Gading''
Konser dan Pentas Tari Gerantang Pelog PKB ke-26
Bali memiliki beberapa jenis gamelan bambu. Namun di arena Pesta Kesenian Bali (PKB), alunan si buluh perindu ini masih kalah jauh dengan riuh gembita Gong Kebyar. Untuk PKB ke-26 kali ini, sebuah seni pertunjukan gamelan bambu tampak berusaha mencuri perhatian penonton. Pentas tari dan konser Gerantang Pelog yang disajikan Minggu siang (20/6) di Wantilan Taman Budaya, Denpasar, oleh Yayasan Seni Suar Agung Bali, hadir dengan penuh percaya diri.
GERANTANG adalah sejenis gamelan bambu yang bersuara renyah dan bercitra lincah. Ditinjau dari segi bahan yang digunakan, gamelan ini diduga bagian dari budaya agraris tradisional. Selain gerantang, di Bali ada beberapa barungan gamelan yang terbuat dari bambu seperti jegog dan rindik misalnya. Jegog umumnya eksis di daerah Bali Barat sedangkan gamelan rindik tersebar di seluruh Bali yang biasanya dipakai untuk mengiringi beberapa varian tari Joged.
Ensambel gerantang yang berlaras pelog lima nada ini dilengkapi dengan sepasang kendang, cengceng, kajar, dan beberapa suling. Instrumen gerantang yang terdiri rentangan berjejer batangan-batangan bambu ukuran sedang dari nada terendah hingga nada tertinggi, dimainkan dengan sepasang pemukul (panggul). Dalam permainannya, sepasang gerantang membuat jalinan bunyi yang saling isi mengisi, kadang-kadang lembut, lincah dan jelimet.
Siang itu, Yayasan Suar Agung Bali menyuguhkan gamelan Gerantang Pelog, baik dalam ungkapan musik instrumental maupun dalam olah musik iringan tari. Tidak tanggung-tanggung, yayasan seni ini memboyong dua barung gamelan Gerantang Pelog. Kedua barung gamelan bambu ini ditabuh oleh grup Gerantang Pelog Suar Agung, Desa Sangkar Agung, Jembrana, dan grup Suar Dewi Stri, kelompok penabuh wanita yang berasal dari Jepang. Kedua sekaa Gerantang Pelog ini adalah binaan Yayasan Suar Agung Bali pimpinan seniman I Ketut Suwentra, SST.
Kurang lebih selama dua jam kedua grup bersanding menampilkan kebolehannya masing-masing. Para seniman tabuh dan tari Suar Agung menyuguhkan tabuh ''Pengungkab Sabda'', tari ''Pringgraha'', tabuh ''Sojar'', dan tari ''Tiying Gading''. Para penabuh wanita Suar Dewi Stri menyajikan ''Reracikan'', ''Utsahaning Putri'', tabuh ''Galang'', dan tari ''Suar Dwi Stri''. ''Saya menyadari bahwa gamelan bambu tidaklah seheboh Gong Kebyar,'' ujar Ketut Suwentra di belakang panggung, sesaat sebelum pertunjukan dimulai. Karena termarginalisasi dan kurang mendapat perhatian, tambahnya, sebagai salah satu praktisi seni ia merasa tertantang dan yang tak akan bosan-bosan mengaktualisasikan gamelan ini di tengah masyarakat Bali dan para pecinta musik bambu dunia. Menurut alumnus ASTI/STSI (kini ISI) Denpasar ini, gamelan bambu juga memiliki pancaran taksu yang tak kalah kharismanya dibandingkan gamelan Bali lainnnya.
Taksu dari gamelan Gerantang Pelog ini belakangan memang cukup berbinar. Selain mampu menjadi media ungkap musikal sarat nuansa kreatif namun juga tak kalah sigapnya dipresentasikan sebagai iringan tari. Dua tari yang disajikan grup Suar Agung yakni tari ''Peringgraha'' dan ''Tiying Gading'', terasa mampu dihidupkan melalui media gamelan Gerantang Pelog ini. Tari "Peringgraha" yang ceria dan girang serta tari ''Tiying Gading" yang gesit dan gemulai, tampak cukup berhasil mempesona penonton.
Tari ''Tiying Gading'' yang tampil pada klimaks pementasan dibawakan oleh dua orang penari cantik Ni Nyoman Cipta dan Ni Made Lusia. Tari yang berdurasi sekitar delapan menit ini bertutur tentang keberadaan tiying gading yang memiliki fungsi religius di tengah masyarakat Bali. ''Melalui estetika tari dan ungkapan musikal gamelan bambu, saya ingin menyampaikan pesan sabda alam yang di Bali kita hayati dalam konsep tri hita karana,'' ungkap Suwentra.
Dalam implementasi artistiknya, ''Tiying Gading'' yang memang khusus digarap untuk PKB ke-26 ini, tampil apik. Warna kostum yang dipakai penari misalnya, mengangkat nuansa kuning kehijauan-hijauan tampak mengacu kepada tema yang ingin digulirkan. Ini terlihat dari rangkaian bunga pada gelungan, baju tipis berpori-pori transparan, jutaian bening oncer-nya, dan ornamentasi keemasan kamben-nya. Kendati masih kental dengan karakter orientasi Bali namun terlihat mencuat inovatif.
Dalam rentetan nada-nada bambu dan tepukan kendang yang ritmik, kedua penari tampil dalam bingkai estetika gerak dan mimik berbinar-binar cerah. Stylisasi atau simbolik-simbolik gerak yagn diungkap berpadu antara kedinamisan dan kelembutan. Gerakan lentur secara vertikal yang bertumpu di pinggul adalah elemen spesifik bagian awal tari ini. Sedang pada bagian tengah kedua penari membuat rangkaian gerak yang tenang dan teduh yang digarisbawahi gesekan lembut instrumen rebab. Memasuki bagian akhir, dalam iringan Gerantang Pelog yagn riang, kedua penari kembali beringsut dalam tempo keceriaan membersitkan dimensi optimistik.
Optimisme itu rupanya kini memang sedang mengemuka pada seni pertunjukan Gerantang Pelog. Baik grup Suar Agung maupun Suar Dwi Stri dengan penuh gairah menyajikan konser dan dengan girang menampilkan garapan tari kreasi dalam kemesraan gamelan si buluh perindu. Jika ruang kreativitas seni ini terus bergelora, ada peluang besar bagi seni pentas Gerantang Pelog menjadi genre kesenian Bali yang bergengsi di kemudian hari. ''Kita jangan hanya hanyut dalam euforia Gong Kebyar saja. Potensi kesenian Bali masih melimpah untuk dikembangkan," ujar Ketut Suwentra yang pada Juli hingga Agustus nanti akan mementaskan seni pertunjukan Gerantang Pelog dan Jegog di beberapa kota besar di Jepang
No comments:
Post a Comment